Resensi Buku Ibnu Sutowo : Saatnya Saya Bercerita!

**************************
Judul: Ibnu Sutowo: Saya Tidak Pernah Korupsi…
Sumber: Kompas, 7 Maret 2009
Penulis : Julius Pour
Jenis Tulisan : Resensi Buku Biografi
Sikap : Netral, cederung Positif
Aktor Aktif : Ramadhan KH, Sri Edi Swasono
Aktor Pasif : Soeharto, Widjojo Nitisastro, Robert McNamara, Frans Seda
**************************

Tulisan Lengkapnya:

Judul: Ibnu Sutowo: Saatnya Saya Bercerita!
Penulis: Ramadhan KH
Penerbit: National Press Club of Indonesia, 2008
Tebal: xxxviii + 538 halaman

Oleh JULIUS POUR

Akhir tahun lalu, krisis distribusi bahan bakar minyak sedang dihadapi Indonesia, negara bekas pemimpin Organisasi Negara Pengekspor Minyak atau OPEC. Ironisnya, krisis terjadi bukan karena harga dinaikkan, tetapi muncul sesudah pemerintah baru saja menurunkan harga jual beberapa jenis BBM.

Dalil klasik menyebutkan, setiap kali dilakukan penurunan harga, otomatis masyarakat yang membutuhkan menyambutnya. Tetapi, apa arti harga turun jika komoditas tersebut menghilang?

”…di mana-mana terdapat pasar gelap dan harga minyak tidak stabil. Di pinggir jalan kelihatan penjual bensin liar. Di samping harganya tinggi, kadang-kadang dicampur bahan lain. Pompa-pompa bensin seenaknya tanpa memikirkan pelayanan. Sebentar-sebentar ada tanda bensin habis di berbagai pompa bensin. Orang asing mengomel, Indonesia tidak becus mengurus penyaluran minyak….” (hal 239)

Apakah ini gambaran pada hari-hari ini? Sayangnya, potret buram tersebut adalah situasi Jakarta pada akhir tahun 1967. Seperti disaksikan sekaligus dikisahkan oleh Ibnu Sutowo dalam biografi karya Ramadhan KH berjudul, Ibnu Sutowo, Saatnya Saya Bercerita!.

Saya tertarik karena Ramadhan pernah menulis karya non-fiksi Ladang Permins mengenai bobroknya manajemen dalam industri minyak. Selain itu, meski naskah ini sudah selesai akhir tahun 2006, konon Ibnu Sutowo pesan, ”…terbitkan setelah Pak Harto tutup usia.”

Dua hal langsung menyentak.

Pertama, sudah lebih dari 40 tahun kita mengelola BBM, ternyata malah kembali ke titik nol. Alih-alih meraup bonanza, memetik keuntungan besar atas ladang-ladang minyak bumi yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia, kita malahan harus mendengarkan lagi omelan orang asing, ”Indonesia tidak becus mengurus minyak….”

Kedua, sesudah empat dasawarsa lebih, kita masih tetap saja jalan di tempat. Memang, berhenti bersama tidak akan jadi soal. Tetapi, ketika kita berhenti, sementara bangsa-bangsa lain (juga yang bukan anggota OPEC) terus melaju, maka jarak ketertinggalan kita, sedang dan pasti akan semakin tambah jauh.

Ibnu Sutowo (1927-2006) sosok multitalenta. Anak Wedana Grobogan, Jawa Tengah, sebenarnya dia seorang dokter. Perang kemerdekaan memanggilnya, direkrut menjadi tentara dan menerima pangkat tituler mayor sekaligus ditetapkan sebagai Kepala Jawatan Kesehatan Tentara di Sumatera Selatan.

Oleh karena minyak bumi merupakan andalan setempat, pemerintah daerah kemudian mendirikan Perusahaan Minyak Republik Indonesia (Permiri) sebagai pengelola pertambangan. ”Saya duduk sebagai pengurus Permiri….” Sejak itu, Ibnu belajar dari lapangan, menimba seluk-beluk pengelolaan minyak sambil memetik Zaleha, anak pasirah dari Martapura, Sumatera Selatan, sebagai istri.

Dari militer terjun ke bisnis

Pengalaman adalah guru terbaik. Sesudah ikut perang kemerdekaan sampai melawan PRRI, di mana dia menjabat Deputi II sekaligus Asisten IV KSAD serta Komandan Operasa Sadar untuk membebaskan Sumatera Selatan dari kekuasaan pemberontak, tanggal 20 Agustus 1968 PN Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara (Pertamina) dibentuk, Presiden Soeharto menunjuk Ibnu Sutowo sebagai presiden direktur dalam suasana seperti di awal tulisan.

”Saya langsung melakukan konsolidasi organisasi secara pragmatis, pembinaan personal dalam semangat, belajar sambil bekerja, diwujudkan lewat pendidikan internal, inventarisasi material dan efisiensi. Hubungan dengan dealer minyak saya tinjau ulang, hubungan baru diciptakan, tangki-tangki mobil ditertibkan, dibangun tangki kapasitas baru yang jauh lebih besar. Tindakan drastis ini adalah pernyataan perang terhadap pedagang-pedagang gelap minyak yang tersebar di mana-mana….”

Ibnu berhasil memenangi perang.

Pertamina berkembang dan kemudian menjadi pemain utama dalam bisnis BBM. Bahkan, tidak sekadar mampu menjamin distribusi merata, tetapi juga membangun armada tanker, merancang sistem bagi hasil menguntungkan, serta merintis penambangan gas alam cair, LNG.

Dalam kondisi meraih sukses, seperti yang diakuinya lewat majalah mingguan Time tahun 1979, Ibnu mengaku harus ngobyek karena gajinya Rp 70.000 sebulan tidak cukup untuk mengurus seorang istri dengan tujuh anak, tiga mobil, berikut rumah luas di Jalan Tanjung, Jakarta. Meski ngobyek, sebuah etika bisnis selalu dia pertahankan, ”…semuanya tidak punya hubungan dengan Pertamina.”

Dilengserkan

Dia yakin dirinya tidak salah dan tidak korupsi. Maka, Ibnu tetap tenang meski di luar tuduhan membanjir. ”…tiga bulan Indonesia Raya menyerang Pertamina dan saya pribadi, dari serial sampai pojok-nya.” Kecaman juga datang dari cendekiawan, teknokrat, sampai Bank Dunia berikut Dana Moneter Internasional yang mengawasi dana pinjaman lewat Kelompok Negara Donor untuk Indonesia (IGGI). Maka Presiden Soeharto lantas membentuk Komisi IV dengan tugas mencermati Pertamina.

Pada sisi lain, Ibnu Sutowo pesan kepada anak buahnya, ”Jangan layani mereka. Kita buat headline dengan bukti kerja keras dan sukses dalam membangun.” Dia menganggap tuduhan tersebut salah paham karena tidak tahu silsilah Pertamina yang dulu berasal dari Permina (tahun 1957) dalam bentuk perseroan terbatas.

Tahun 1960 PT Pertamina dijadikan PN Pertamina, ”…yang berubah kekayaannya, semula terbatas dalam saham, kini jadi tidak terbatas.” UU Nomor 19 Tahun 1960 tentang Perusahaan Negara juga dia kritik, ”…yang bertanggung jawab terhadap kekayaan perusahaan direktur utama. Kalau dia bodoh, paling banter ditutup sebab dia tidak menyalahi hukum. UU tersebut juga tidak melarang pendirian anak perusahaan, hanya perlu izin pemerintah. Sedangkan Pertamina? Saya selalu lapor kepada Presiden….”

Akhirnya, tanggal 5 Maret 1976, Ibnu Sutowo dilengserkan. Dia legowo, tetapi penasaran, ingin tahu apa sebabnya diganti? Dengan bantuan Drs Frans Seda, dia mendapat konfirmasi, Presiden Bank Dunia MacNamara yang ingin dia dicopot.

Prof Dr Edi Swasono mempertanyakan, ”Apa sebab Prof Dr Widjojo Nitisastro menjegal Ibnu Sutowo ketika sedang akan membangun Pertamina? Apa bukan karena softness teknokrat kita kepada kepada Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional? Apa karena dislike pribadi?”

Kini bola berada di tangan Prof Widjojo dan teman-temannya, para teknokrat pendamping Presiden Soeharto pada masa itu. Apakah bersedia menjawab pertanyaan Ibnu Sutowo?

”Saya ingin bertanya karena Widjojo yang memakai istilah krisis Pertamina.” Perusahaan minyak yang pernah dipimpin Ibnu Sutowo sejak berproduksi 350.000 barrel per hari dengan harga di bawah 2 dollar AS per barrel. Sampai produksinya mencapai 1,7 juta barrel per hari dengan harga 34 dollar AS per barrel berikut income dari minyak sekitar 2 miliar dollar AS. (Julius Pour, Wartawan dan Penulis Biografi)

About these ads

~ oleh Adji Wigjoteruna pada Maret 26, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: